Senin, 26 Maret 2012
ALL WE EVER DO IS SAY GOODBYE - JOHN MAYER
Your voice comes thrashing wildly through my quiet bed
You say you wanna try again
But I've tried everything but giving in
Why you wanna break my heart again
Why am I gonna let you try
When all we ever do is say goodbye
All we ever do is say goodbye
All we ever do is say goodbye
All we ever do is say goodbye
I bought a ticket on a plane
And by the time it landed you had gone again
I love you more than songs can say
But i can't keep running after yesterday
Why you wanna break my heart again
Why am I gonna let you try
When all we ever do is say goodbye
All we ever do is say goodbye
All we ever do is say goodbye
All we ever do is say goodbye
We say goodbye
We say goodbye
We say goodbye
All we ever do is say goodbye
All we ever do is say goodbye
All we ever do is say goodbye
All we ever do is say goodbye
All we ever do is say goodbye
Sumber : www.sing365.com
Selasa, 28 Februari 2012
Soal Jodoh dan Dijodohkan
"Saya tidak mau dijodohkan, jaman sekarang tidak ada lagi hal- hal siti nurbaya, saya mau mencari pasangan hidup sendiri."
Dulu, saya bisa dengan sangat percaya diri bilang itu ke orang tua saya. Karena saya dulu begitu yakin ada "dia" yang memang selalu menginginkan saya nantinya jadi pasangan hidupnya, begitu juga sebaliknya. Ada "dia", yang belum tentu direstui oleh orang tua saya tapi sudah menjadi pilihan saya sejak awal untuk sama- sama menua, tentu saja dalam pernikahan yang berbuahkan anak dan cucu yang saling mengasihi. Terlalu jauhkan saya bermimpi? hahahha, bukan tanpa dasar. Sejak awal saya memiliki keyakinan yang sangat besar bahwa hubungan yang ada antara saya dan "dia" akan sampai pada level seperti yang ada di bayangan saya.
Dulu, saya bisa melihat bahwa saya bisa bertahan. Ada "dia" yang awalnya terlihat sangat menyayangi saya, melebihi perasaan saya ke "dia". Itu gambaran awal "kami". Saya bisa dan mau menjalani hubungan yang walaupun tidak jelas demi menunggu waktu hingga saya dan "dia" betul- betul bisa menjadi kami. Saya yakin saya mampu, karena "dia" dan perasaannya ke saya nyata, "dia" tidak akan menyakiti, menduakan (atau lebih), bahkan meninggalkan saya. Bagaimanapun sakit dan besarnya masalah, dia tidak akan membiarkan saya pergi dan "dia" akan selalu kembali ke saya. Kenapa? Karena dia sangat sayang dan membutuhkan saya.
Tapi sekarang, setelah yang terjadi dan setelah saya mengetahui semuanya, saya sama sekali tidak lagi punya kekuatan dan kepercayaan diri untuk mengulang statement yang dulu saya katakan ke orang tua saya. Setelah akhirnya saya tau, saya untuk "dia" hanyalah hal yang tidak perlu ditambahkan kata SEKALI di belakang kata penting. Bahwa saya hanyalah "kesalahan" dan tidak patut untuk diperjuangkan. Bahwa bertemu dan bersama dengan orang lain selalu menjadi pilihannya jika sudah disandingkan dengan hal yang menyangkut saya. Bahwa dia lebih memilih dekat dengan orang lain.
Kemana semua rasa yang pada awal itu pergi? Kemana keyakinan itu berlari? Kemana "dia" yang dulu?
Terlihat menyedihkan? Mungkin. Tapi bukan itu yang ingin saya perlihatkan. Tidak penting untuk membagi rasa sakit berbulan- bulan itu dengan orang lain. Orang yang paling saya ingin berbagi rasa ini saja tidak peduli.
Poinnya disini adalah, saya sempat yakin bahwa "dia" adalah jodoh untuk saya dari Tuhan. Tetapi pada akhirnya, kuasa- NYA yang berbicara. Sekarang saya sendiri dan masih berusaha untuk memetik pelajaran dari perpisahan yang sudah terjadi. Dalam rentang waktu 3 tahun lebih bukan hal yang mudah untuk dilupakan. Setidaknya untuk saya. "dia"? Oh, "dia" baik- baik saja, sangat baik- baik saja dengan hidupnya yang sempurna bersama dengan orang lain. Saya masih berusaha untuk move on dan menetralkan perasaan yang sepihak ini.
Sekarang, karena sudah tidak memiliki keyakinan dan kekuatan lagi untuk mencari pasangan hidup sendiri, saya mulai berpikiran tidak apa- apa jaman sekarang masih melakukan hal semacam "siti nurbaya". Biar orang tua yang menentukan dengan siapa saya baiknya menua bersama. Orang tua selalu mau dan tahu yang terbaik untuk anaknya kan? Sekarang saya pasrah saja.
Tapi melihat situasi saya sekarang (tidak tau masa depannya bagaiman), kemungkinan besar masalah pernikahan atau apalah namanya hubungan dengan lawan jenis, tidak lagi masuk dalam daftar prioritas. Walau seberapa besarpun keinginan saya untuk mempunyai "seseorang" yang bisa diandalkan dan mampu membuat hati terasa hangat (unyu- unyu kalau anak sekarang bilang). Masalah "keunyu-unyuan" itu setidaknya bisa terselesaikan dan terpenuhi cukup dengan melihat drama korea yang kebanyakan temanya cinta dan happy ending. Cukup andalkan diri sendiri dan tidak berpikir dan berperasaan lebih ke orang lain itu juga sudah cukup untuk menempuh jalur aman dari kekecewaan.
Cari pasangan hidup sendiri ataupun ikut lakon siti nurbaya. Menikah atau bahkan tidak menikah sama sekali. Saya pasrah sajalah. Biar Allah yang menentukan yang terbaik untuk saya melalui orang tua saya sebagai perpanjangan kasih sayang- NYA.
Wallahu a'lam.
Note Jaman Kapan 5
Meski tak terlalu, tak beriring kata sangat.
Wangimu menguar di sekeliling udara yang ku hirup.
Sela- sela jemariku yang kosong rindu untuk saling bertaut dengan jemari tanganmu.
Jiwaku merindu saat- saat manis ketika pertama kau ucapkan kata sayang itu.
Hatiku merindu menghangat.
Jantungku pun telah lama tak berdebur layaknya ombak berbentur karang.
Kau jauh, amat jauh.
Tak terengkuh jangkauan raga ataupun jiwa.
Sayang, aku rindu.
Tapi bukan rindu seperti dulu.
Meski sindromnya sangat mirip, ku tau pasti, ini bagian dari proses menetralkan rasaku padamu.
Rasa yang bertepuk sebelah tangan itu.
Jadi tolong bertahan saja sebentar disana.
Di tempat yang jauh di mata dan di hati itu.
Supaya lebih giat lagi asaku menghapus mimpi masa depan, yang dulu, ku rancang indah dengan kau dan aku sebagai tokoh utamanya.
Tolong untuk tetap melanjutkan acara menghilang dan mengacuhkan itu.
Agenda tidak mengakui kesalahan dan menyesal akan itu.
Lebih mudah bagiku jika dalam keadaan luka untuk lupa.
Semoga kebahagiaan untuk tiap- tiap aku dan kamu, tidak lama lagi menjelang.
Aku ingin bahagia dicinta, walau bukan kamu.
Sidrap, 7 Januari 2012
Note Jaman Kapan 4
Mungkin sudah cukup lama aku tak terlihat, tapi mungkin juga tidak.
Untukmu yang tidak membutuhkanku, ketiadaanku merupakan ketenangan kan?
Iya , baiklah.
Karena itu aku memilih tuk mendoakanmu dalam diam, dalam hening, dan dalam jarak yang membentang.
Selamat bertambah umurmu, semoga kedewasaan menyertainya. Semoga apa yang kau cita- citakan untuk membahagiakan orang tua dan ambisimu bisa kau dapatkan. Setulus hati, ku doakan kau bisa menggapai semua mimpimu, dan merengkuh masa depan cemerlangmu (yang tentu saja tak ada tempat untukku di dalamnya). Kesehatan, kebahagiaan, kesejahteraan, kedamaian, dan kerendahan hati semoga juga senantiasa mengiringi hari- harimu.
Jangan takut akan masa depan yang katamu tak kau tahu, cukup nikmati hari yang kau punya dan kerjakan sebaik mungkin. Tuhan Maha Tahu dan Maha Adil, Dia akan mengganjarmu dengan balasan yang setimpal.
Aamiin.
4 Januari 2012
Note Jaman Kapan 3
Oh maaf, mungkin sekarang aku harusnya tidak mengikutkan "ku" di belakang namamu lagi.
Sudah 2 hari ini kau menghilang dan hanya muncul dengan sepatah kata "saya sayangki".
Tahukah kamu?
Hatiku yang sudah kau sakiti itu tidak akan sembuh dengan cara seperti itu.
Ketiadaanmu hanya semakin memperlihatkan apa yang saya asumsikan, tapi selalu kau sangkal, bahwa kau tidak membutuhkanku adalah benar.
Hatiku yang terlanjur kau leceti dengan kata- kata menyakitkan tidak akan serta merta kering lukanya dengan cara seperti itu.
Hal yang kau lakukan hanya memperparahnya, karena kau menunjukkan betapa tidak pedulinya kamu.
Dan, dengan cara seperti itu hanya akan membuatku semakin yakin bahwa yang kamu bilang itu, kebohongan saja.
Ini, tidak menunjukkan aku penting untuk kamu.
Ini tidak menunjukkan kamu butuh.
Ini tidak menunjukkan kamu sayang aku dengan tulus.
Jadi jangan salahkan saya karena kita semakin jauh.
Saya tidak mungkin datang padamu setelah kau sakiti sedemikian rupa.
Jika kamu masih menginginkan kebersamaan, harusnya kamu yang datang ke aku.
Bukannya mengharap saya yang menyerah.
Kamu juga butuh aku kan?
Lantas kenapa harus aku yang selalu menyerah?
30 November 2011
Note Jaman Kapan 2
Tapi menguraikannya hanya akan buatku meretas luka.
Ah, tidak, biar bagian akhirnya saja yang ku bagi.
Biar kamu tau, kalo kamu masih tau.
Tentang bagian ketika bulan yang mengintip masuk dari sela- sela atap kamarku yang rapuh.
Lalu jadi saksi, jadi kawan, dalam isak ku di antara lagu- lagu cengeng bertema cinta itu.
Atau pada bagian ku tak lagi sanggup menahan acuhmu, dan bantal- bantal sembab ku menjadi petisi, aku melenggang pergi darimu.
Meski tak sepenuhnya sanggup berjalan dengan dagu terangkat dan bahu tegak.
Aku berharap kau mencegah, menarik tanganku untuk masuk dalam dekapanmu.
Tapi sayangnya, kau hanya terpaku.
Tidak dengan tangan terulur. Tidak dengan teriakan memanggil namaku. Tidak dengan tangis.
Lantas ku bulatkan tekad, tidak akan menoleh ke belakang lagi.
Aku membiarkan sosokmu diterbangkan angin pasir berbisik dari ekor mataku.
Dan, wussh. Disinilah aku.
Lagi- lagi dalam kamar yang diintipi sinar bulan, bersama bantal sembab dan lagu- lagu cengeng tentang cinta.
Aku berhenti dari jabatan orang jatuh cinta.
Tapi aku tetap punya segalanya.
21 Oktober 2011
Note Jaman Kapan 1
Amat sangat.
Luka.
Dalam dan mungkin tak terobati.
Kamu, memang hanya tidak sebutuh itu.
Jadi aku bisa bilang apa?
Bukankah sudah ku teriakkan aku lelah?
Dan aku memang.
Berkali- kali ku paksakan, hentikan !
Karena kamu, memang tidak sebutuh itu.
Jadi kenapa aku harus menghabiskan waktu untuk berlelah- lelah dalam tangis?
Jika memang kamu tidak sebutuh aku, lantas akau bisa apa.
Aku tak ingin terus mendongak, menoleh, bergerak kesana kemari mengikuti arah pandangmu.
Hanya supaya kamu bisa melihat dan sadar.
Peduli.
Tangisku.
Sakitku.
Rinduku.
Sepiku.
Tawaku.
Hanya saja, kamu memang tidak sebutuh itu.
Lalu, apa aku harus mengiba- iba lagi demi rasamu?
Berjalan terseok- seok di belakangmu yang tengah berlari, mengejar sebentuk abstrak yang jadi topengmu.
Tanpa pernah menoleh.
Karena kamu, hanya tidak sebutuh itu.
Iya.
Jadi aku ingin berbalik arah.
Atau juga mungkin diam di tempat.
Memandang bayang punggungmu beranjak menjauh.
Demi ambisi yang hanya itu terlihat.
Atau mungkin cuma sekedar kilahan.
Topeng perubahan.
Atau demi rasa lain yang datang menari- nari dalam hatimu.
Menghapusku.
20 Oktober 2011
Senin, 30 Januari 2012
Jar Of Heart - Christina Perry
'Cause all that's waiting is regret
Don't you know I'm not your ghost anymore
You lost the love I loved the most
I learned to live half alive
And now you want me one more time
[Chorus:]
And who do you think you are?
Runnin' 'round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart
You're gonna catch a cold
From the ice inside your soul
So don't come back for me
Who do you think you are?
I hear you're asking all around
If I am anywhere to be found
But I have grown too strong
To ever fall back in your arms
I've learned to live half alive
And now you want me one more time
[Chorus:]
And who do you think you are?
Runnin' 'round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart
You're gonna catch a cold
From the ice inside your soul
So don't come back for me
Who do you think you are?
Dear, It took so long just to feel all right
Remember how to put back the light in my eyes
I wish I had missed the first time that we kissed
'Cause you broke all your promises
And now you're back
You don't get to get me back
And who do you think you are?
Runnin' 'round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart
You're gonna catch a cold
From the ice inside your soul
So don't come back for me
Don't come back at all
[Chorus:]
And who do you think you are?
Runnin' 'round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart
You're gonna catch a cold
From the ice inside your soul
Don't come back for me
Don't come back at all
Who do you think you are?
Who do you think you are?
Who do you think you are?
Selasa, 29 November 2011
Dekat Tapi Jauh
Bismillah.
Ini cerita tentang kedekatan kita.
Yang baru saja saya renungi.
Mungkin kita memang tidak pernah menjadi “kita”.
Kamu, aku, terlalu sibuk untuk tetap menjadi “kamu” dan “aku”.
Kamu, aku, terlalu mandiri untuk melebur menjadi satu.
Ini cerita tentang kedekatan kita.
Yang sudah lama saya raba ketidakadaannya.
Tapi sering kali saya ingkari.
Hingga menjadi pura- pura ada.
Sungguh, awalnya saya merasa sangat dekat dengan kamu.
Tapi dalam hari- hari yang terbilang, sering kali aku sendiri.
Lalu, tanpa sadar aku berlari.
Meski hati tetap berpaku, tapi akalku memilih tuk tak lagi bersandarkan kamu.
Perlahan, tapi pasti.
Ini cerita tentang kedekatan kita.
Yang lama terabaikan, yang kering berderik- derik.
Yang berawal dari tak ada waktu dari kamu.
Bersambung ke episode “hide and seek” kamu dengan orang lain.
Lalu berganti ke “demi masa depan berdua” sebagai pembenaran ambisi kamu.
Berpindah dengan cepat ke bagian mengambil keputusan sendiri.
Berlanjut tak ada lagi saling berbagi cerita dan rasa.
Akhirnya, luka.
Tak lagi mampu terobati.
Tak lagi ada kata.
Ini cerita tentang kedekatan kita.
Yang dengan susah payah sedikit memaksa telah ku berupaya.
Walau akhirnya kamu hanya melihatnya sebagai sesuatu yang salah.
Aku, tak lebih dari keinginan yang kamu rasa meminta terlalu banyak
Tuntutan. Kesalahan.
Bukan lagi kebutuhan.
Ini cerita tentang kedekatan kita.
Yang telah lama berkamuflase menjadi nyata pada raga saja.
Meski ada bahagia, tapi nyatanya tetap saja rindu akan “kita” itu membuncah.
Tak tertahankan. Tapi tak juga bersambut layak.
Kecewa. Amarah.
“kita” tak lagi pernah ada.
Walau ku mengamuk sejadi- jadinya.
Kamu, lebih memilih untuk tetap menjadi kamu dibanding “kita”.
Aku, akhirnya menyerah.
Membiarkanmu, membiarkan aku menikmati “kita” yang semu.
Setidaknya aku masih bisa pura- pura menjadi “kita”.
Kamu, juga mungkin masih mau memberikan hak untuk “kita” yang pura- pura.
Ini cerita tentang kedekatan kita.
Yang pura- pura.
Yang akhirnya hanya berujung lelah tanpa rasa apa- apa.
Karena kamu tak pernah lagi melibatkan aku, karena kamu pun lelah bersandiwara.
Tak ada yang bertahan dalam semu, apalagi itu cinta.
Ini cerita tentang kedekatan kita.
Yang untuknya telah ku lalui banyak luka dan air mata.
Yang untuknya telah ku lakukan yang sebenarnya belum mampu aku.
Yang untuknya telah ku usahakan hanya ada satu.
Yang untuknya aku tak lebih dari kesalahan.
Yang untuknya telah ku diabaikan.
Yang untuknya telah ku percayakan asaku.
Yang untuknya telah ku dikecewakan. Berkali- kali.
Untuk kedekatan kita,
Yang kupikir akan bertahan selamanya,
Walau akhirnya hanya sandiwara.
Untuk kedekatan kita yang ternyata tak bisa menjadi nyata,
Aku relakannya pergi,
Aku relakannya menjadi hanya mimpi,
Aku mengikhlaskannya demi ambisimu.
Untuknya, untuk kedekatan kita, yang tak lagi ada dayaku upaya...
Aku menyerah.
Makassar, 20 november 2011
Di kamar,ditemani lagu korea.
Masih tidak diperjuangkan. Tidak lagi ingin diperjuangkan.
Sarasenia.
Jumat, 30 September 2011
Supaya Orang Lain Mengerti
Peduli itu bukan hanya sekedar mengatakan "Ingat mkan sama shalatnya yah" atau "jangan begadang, jaga kesehatan".
Peduli juga bukan cuma tentang ada di sekitar lingkungan orang yang kata anda, anda pedulikan. Tidak! Peduli bukan hanya tentang hal- hal semacam itu!
Hal lainnya adalah, bahwa butuh itu bukan cuma dengan mengatakan "saya butuh anda" maka lalu dapat disimpulkan bahwa anda butuh orang yang anda maksud.
Tidak, tidak. Butuh itu tidak seperti itu.
Butuh itu dibilang butuh bukan hanya karena anda berada di sekitar orang yang katanya anda butuhkan.
Begitu juga dengan memberikan label "penting" untuk sesuatu atau seseorang. Sama dengan kedua hal sebelumnya, label "penting" itu tidak cukup hanya dengan mengatakan 'anda penting bagi saya" lantas dapat dibenarkan bahwa orang atau sesuatu itu memang penting untuk anda.
Tidak sesimpel mengucapkannya.
Untuk meyakinkan seseorang bahwa anda menyayanginya pun, tidak cukup hanya dengan berkata "saya sayang anda" atau 'i love you" atau kalimat- kalimat semacamnya.
Sekali lagi, tidak dan bukan seperti itu.
Lalu, bagaimana?
Sayang, Peduli, Butuh, dan Penting.
Jika anda suatu saat mengklaim bahwa anda peduli akan sesuatu atau terhadap seseorang, SEKEDAR mengucapkannya dalam kata- kata tidaklah akan memberikan hasil yang sesuai dengan harapan anda. Ketika anda mengklaim bahwa anda peduli, dibutuhkan lebih dari sekedar kata- kata, lebih tepatnya kepedulian anda perlu diwujudkan dalam suatu wujud yang real, yang yah.. walaupun mungkin tidak dapat dilihat disentuh ataupun dibaui, setidaknya kepedulian anda dapat dirasakan oleh sasaran anda. Dan sebaik- baiknya indera perasa, HATI adalah yang terbaik. Maka jika anda betul- betul peduli, selami intinya, selami hatinya dengan hati anda. Memang tidak mudah, dan bukan hal yang bisa instan. Hasil terbaik dari kepedulian yang tulus adalah ketika anda tidak lagi menggunakan kata- kata untuk berkomunikasi. Hanya dengan melihat tatapan matanya mungkin anda sudah dapat merasakan, ada yang salah dengan harinya. Dengan mendengarkan intonasi suaranya, mungkin anda sudah tahu, dia merindukan anda. Dengan melihat ekspresi wajahnya, mungkin anda sudah tahu, anda telah mengecewakannya. Dan lain- lainnya. Hanya dengan mempedulikan dengan hati, maka anda dapat memenangkan hati orang lain.
- To be continu -
Insya Allah.
Sabtu, 24 September 2011
Tak Berjudul - PALSU -
SADAR tidak atas sikap kamu itu?
KAMU, 'ngeh tidak kalo ada orang yang tersakiti karena sikap kamu itu?
setidaknya, kalau KAMU TIDAK BUTUH, jangan bertindak SEAKAN- AKAN kamu butuh!
masih lebih banyak hal yang perlu diperhatikan daripada KAMU, yang GA PUNYA PEDULI!
Kamu, memang lebih pantas untuk ditinggalkan. Ups, Kamu memang INGIN ditinggalkan! Sakit itu kamu TAHU kan? tapi masih juga kamu ULANG.
jadi, y sudah, orang yang kamu SAKITI itu juga LELAH.
DIA pilih untuk BAHAGIA dengan semuanya KECUALI kamu.
Itulah harga untuk KETIDAKPEDULIAN.
memangnya kamu NYARI dia? ngga usah bwt berkata- kata panjang kali lebar deh, cukup 1 kalimat saja, " SAYA MINTA MAAF KARNA SALAH, SAYA TAHU SALAH SAYA ADALAH...". Iyah, AWALnya cukup itu saja.
Tapi kamu LEBIH MEMILIH untuk MENGABAIKAN sih, memilih untuk MEMBIARKAN.
Sekarang, 1 kalimat di atas itu saja sudah TIDAK CUKUP.
Kenapa?
karna orang itu SUDAH membulatkan hati.
TIDAK MAU kamu SAKITI lagi.
Dan akhirnya PERGI.
Sayonara KAMU, yang sudah menyakiti!
Kelly Clarkson - Mr. Know It All
Well ya think you know it all
But ya don't know a thing at all
Ain't it something y'all
When somebody tells you something bout you
Think that they know you more than you do
So you take it down another pill to swallow
Mr bring me down
Well ya like to bring me down don't ya
But I ain't laying down, baby
I ain't going down
Can't nobody tell me how it's gonna be
Nobody gonna make a fool out of me
Baby you should know that I lead not follow
[Chorus]
Oh you think that you know me, know me
That's why I'm leaving you lonely, lonely
Cause baby you don't know a thing about me
You don't know a thing about me
You ain't got the right to tell me
When and where to go, no right to tell me
Acting like you own me lately
Yeah baby you don't know a thing about me
You don't know a thing about me
Mr play your games
Only got yourself to blame
When you want me back again
But I ain't falling back again
Cause I'm living my truth without your lies
Let's be clear baby this is goodbye
I ain't coming back tomorrow
[Chorus]
Oh you think that you know me, know me
That's why I'm leaving you lonely, lonely
Cause baby you don't know a thing about me
You don't know a thing about me
You ain't got the right to tell me
When and where to go, no right to tell me
Acting like you own me lately
Yeah baby you don't know a thing about me
You don't know a thing about me
[Bridge]
So what, you've got the world at your feet
And you know everything about everything
But you don't
You still think I'm coming back but baby you'll see
[Chorus]
Oh you think that you know me, know me
That's why I'm leaving you lonely, lonely
Cause baby you don't know a thing about me
You don't know a thing about me
You ain't got the right to tell me
When and where to go, no right to tell me
Acting like you own me lately
Yeah baby you don't know a thing about me
You don't know a thing about me
Mr know it all
Well ya think you know it all
But ya don't know a thing at all
Yeah baby you don't know a thing about me
You don't know a thing about me
Kamis, 15 September 2011
The Rain - Jangan Bermain Dengan Hatiku
entah berapa lama
aku menunggu
kau buat ku percaya
kau inginkan aku
apa maumu bermain dengan hatiku
kau beri harapan untuk kau remukkan
berulang kali
pernah aku berpikir
ini tak mungkin
lalu kau datang lagi
membutakan aku
apa maumu bermain dengan hatiku
kau beri harapan untuk kau remukkan
berulang kali
kau tahu aku terlalu menginginkanmu
hingga ku biarkan hati kau hancurkan
untuk ku satukan lagi dan ku berikan padamu
kau tahu aku terlalu menginginkanmu
hingga ku biarkan hati kau hancurkan
untuk ku satukan lagi dan ku berikan padamu
dan tetap menunggu
Jumat, 09 September 2011
KKN (baca : kakaeng) Part 1
Akhirnya bisa juga nulis disini.. soalnya d desa nun jauh disono sinyal bwt ngeblogging ga memungkinkan. Bwt sms atau nelp aja susah, apalagi bwt internetan. :)
Nah, sesuai judul, ini adalah sedikit cerita tentang masa2 KKN yang cukup berwarna (mangnya pelangi, hehehe). Mulai dari ngakak bareng, marah2an, ngambek2an, gila2an, sampe akhirnya nangis bareng, eh ada cinloknya juga ding, hehehe.
Berangkat tanggal 23 Juli 2011, dianter sm pc-mc-kk (ada orang ga bisa nganter krn lg skit katanya). Pagi2 buta, dah bangun trus siap2 plus ngecek barang2 bawaan, supaya ga ada yg kelupaan. Bis mandi, pke baju plus dendong dikit, eh kok rasanya pengen motong rambut yah.. kepkiran kalo ditempat kakaeng nanti bakal kegerahan dgn rmbut segitu. Alhasil, mc jadi buka salon dadakan deh (subuh2 pula), rambutnya dipotong pendek lurus2 :)
Nyampe di kampusnya sempet bingung juga, yang mana nih bis nya, soalnya bis yang nongkrong disitu rada over jumlahnya. Parkiran yang biasanya kosong, dijejelin sama 20an bis segala nama. Beneran deh, ada yang namanya "cahaya timur" dll (udah lupa, hihi). Akhirnya, nelp temen se-posko yang dah nyampe duluan. Jeng jeng jeng, namanya RADIA (cerita soal makhluk2 ajaib se-posko nanti laen lagi ceritanya). Katanya bis nomor 19. Celingak celinguk, alhamdulillah ketemu deh. Trus balik lagi ngambil koper n manggil keluarga yang ngantar gitu. Pas barang2 dah di atas bus, nyari tempat duduk (duduknya barengan IRMA EPEN- EPEN), turun lagi buat cerita2 sama mc, foto temen2 yang ketemu, plus liat2 bisnya anak2 yang laen.
Singkat cerita, bis nya berangkat juga. Sempet nangis di bis waktu liat mc pc dadah2an, hiks :)
Sabtu, 04 Juni 2011
silly conclusion!
karena rasa sayangnya dia ga sebesar yang dia bilang? ngga, bukan dia yang bilang, tapi saya yang menafsirkan.
atau karena dia terlalu sering mendahulukan yang lain daripada saya? kan udah biasa.
atau karena dia mengiyakan " we're just friend"? tapi kan memang cuma teman.
jadi apa dong yang bikin sakit, banget?
tunggu sbentar, biarkan saya mikir...
.
..
...
....
.....
yang ini ga bisa kalo make logika, jadi biarin saya nyoba ngerasain kalo gitu.
pake hati...
-
--
---
saya tahu. saya merasa tertipu. lagi.
tapi siapa atau apa yang menipu?
dia?
atau pikiran saya sendiri?
ga baik kalo negatif thinking sama orang.
ga baik kalo jadiin orang kambing itam.
jadi ini saya yang salah.
pikiran saya yang menipu.
hebat.
saya ditipu diri saya sendiri.
what a silly simple complicated conclusion!
mks, 4 juni 2011
20.22
Jumat, 03 Juni 2011
don't judge the book by it's says!
-
Pedih
Engkau yang sedang patah hati
Menangislah dan jangan ragu ungkapkan
Betapa pedih hati yang tersakiti
Racun yang membunuhmu secara perlahan
Engkau yang saat ini pilu
Betapa menanggung beban kepedihan
Tumpahkan sakit itu dalam tangismu
Yang menusuk relung hati yang paling dalam
Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Di sini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat, senyum di tidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri
Juga bagi...
Engkau yang hatinya terluka
Di peluk nestapa tersapu derita
Seiring saat keringnya air mata
Tak mampu menahan pedih yang tak ada habisnya
Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Di sini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat, senyum di tidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri
Juga bagi..mu...
Engkau yang sedang patah hati
Menangislah dan jangan ragu ungkapkan
Betapa pedih hati yang tersakiti
Racun yang membunuhmu secara perlahan
Engkau yang saat ini pilu
Betapa menanggung beban kepedihan
Tumpahkan sakit itu dalam tangismu
Yang menusuk relung hati yang paling dalam
Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Di sini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat, senyum di tidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri
Juga bagi…
Engkau yang hatinya terluka
Di peluk nestapa tersapu derita
Seiring saat keringnya air mata
Tak mampu menahan pedih yang tak ada habisnya
Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Di sini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat, senyum di tidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri
Juga bagi..mu…
( Last Child - PERIH )
- dalam tangis dini hari -
Sabtu, 28 Mei 2011
i'm out
jadi dengan segala kesadaran dan kepedihan dan ketidakdianggapan dan kesedihan, saya memutuskan untuk keluar dari KAD.
semoga dengan itu tidak memutuskan persahabatan (kalo memang ada) di antara kita. saya masih ingin bersahabat dengan kalian, tapi secara personal, bukan komunitas.
trima kasih. i'm out
:)
Rabu, 25 Mei 2011
Sahabat
bdw, sekarang saya sedang merasa urgen untuk menulis tentang PERSAHABATAN. Knapa? why? soalnya saya sedang merasa menjadi shabat yang tidak baik, dan memiliki sahabat yang kurang memahami (bukan tidak baik loh).
semuanya karena komunikasi yang tidak baik. tidak sinkron. semuanya merasa yang paling benar. semuanya merasa paling berhak untuk menyakiti karena yah... dia yang paling disakiti.
yang satu merasa "terasing" karena tidk mendapatkan informasi yang semestinya. yang satu merasa "benar" karena merasa sudah menginformasikan.
yahhh, singkat cerita. datanglah saya yang sok pahlawan mau mendamaikan atau paling tidak membuat kedua pihak yang bertikai saling mengerti dimana salah dan benarnya. tapi sayangnya.. saya malah merasa jadi korban.
tiba- tiba semua pihak merasa simpati pada pihak yang merasa tersakiti ( baca : pihak yang merasa sudah menginformasikan). semuanya kemudian amat sangat menjaga perasaannya. bahkan untuk menjaga perasaannya itu, saya, yang dianggap memihak pihak yang menyakiti (bagi mereka) ( baca : pihak yang merasa "terasing"), sering kali tidak dilibatkan dalam urusan sahabat2an ini. pihak- pihak lain ini seperti menyembunyikan suatu hal dari saya sebagai pihak yang dinilai memihak. tapi sebenarnya, siapa yang memihak sekarang?
alhasil, saya merasa iri, dan juga terasing. jujur saja. saya iri, karena melihat pihak- pihak yang lain yang sebenarnya, seharusnya netral ini, begitu mencurahkan perhatiannya pada pihak yang merasa tersakiti. tampaknya mereka tidak sadar, ada 1 pihak lagi yang sudah disakiti, ada 1 pihak lagi yang merasa terasing. tersakiti karena tuduhan, karena kesinisan, dan ketidakpedulian. sepertinya pihak- pihak yang lain ini juga lupa, bahwa masih ada 1 pihak yang jadi korban dari hal sahabat2an ini. 1 pihak yang pada dia mereka tutupi sesuatu karena menjaga perasaan pihak yang tersakiti itu. karena merasa pihak yang terlupakan itu sudah menutupi sesuatu dari mereka. hanya karena pihak yang terlupakan itu ingin memegang janjinya pada pihak yang merasa terasing dalam upaya memediasi konflik. walaupun telah dijelaskan oleh pihak yang terlupakan itu, bahwa hal yang disampaikan kurang lebih sama dengan yang sudah diungkapkan oleh pihak yang terasing dalam upaya keterbukaan setelah dimediasi oleh pihak yang terlupakan.
pihak- pihak lain yang terlibat, dan pihak- pihak yang ada dalam konflik secara langsung ( baca: pihak terasing dan pihak tersakiti), merasa bahwa karena pihak yang terlupakan telah menyembunyikan sesuatu maka dia juga berhak disembunyikan sesuatu darinya.
oh yah, saya sudah bilang belum siapa pihak yang terlupakan itu?
saya baru sadar, ternyata pihak itu adalah saya sendiri.
Sabtu, 21 Mei 2011
maju kena, mundur sama saja
Mau mendamaikan konflik juga gampang- gampang susah. Mencoba mendengarkan cerita dari salah satu pihak untuk disambungkan alur cerita dan temukan miskomnya, dituduh berpihak. Tapi kalo ga mau dengar dari dua2nya juga dituduh ga peduli. jadi maunya seperti apa? ujung- ujungnya toh tetep disalahin juga.
Mari mencoba untuk berbesar hati, dan berbesar kepala untuk memberikan kebahagiaan pada orang lain. Meskipun itu kadang berarti, sesuatu lebih baik tanpa kehadiran kita.
Semoga.
Jumat, 22 April 2011
between duty and sick
lagi ga mood.
lagi pengen tidur atau malas2an di rumah.
tapi tugas numpuk.
nunggu buwat di selesein secepatnya.
salah saya juga siih.
jadi procrastinator hampir sepanjang waktu.
ehm.
semoga Kamu memberikanku kekuatan untuk menyelesaikan semua tugas.
semua tanggung jawab.
supaya saya ga ngecewain orang- orang.
supaya saya bisa jadi orang yang diandalkan.
supaya saya bisa jadi orang yang bisa mengemban dan menjalankan amanah.
amin.
antara kewajiban dan kemampuan.
semangat sajalah!
ah, jangan pake -lah.
jangan juga pake saja.
cukup satu kata itu saja.
bismillah.
smangat!!!