Perih.
Amat sangat.
Luka.
Dalam dan mungkin tak terobati.
Kamu, memang hanya tidak sebutuh itu.
Jadi aku bisa bilang apa?
Bukankah sudah ku teriakkan aku lelah?
Dan aku memang.
Berkali- kali ku paksakan, hentikan !
Karena kamu, memang tidak sebutuh itu.
Jadi kenapa aku harus menghabiskan waktu untuk berlelah- lelah dalam tangis?
Jika memang kamu tidak sebutuh aku, lantas akau bisa apa.
Aku tak ingin terus mendongak, menoleh, bergerak kesana kemari mengikuti arah pandangmu.
Hanya supaya kamu bisa melihat dan sadar.
Peduli.
Tangisku.
Sakitku.
Rinduku.
Sepiku.
Tawaku.
Hanya saja, kamu memang tidak sebutuh itu.
Lalu, apa aku harus mengiba- iba lagi demi rasamu?
Berjalan terseok- seok di belakangmu yang tengah berlari, mengejar sebentuk abstrak yang jadi topengmu.
Tanpa pernah menoleh.
Karena kamu, hanya tidak sebutuh itu.
Iya.
Jadi aku ingin berbalik arah.
Atau juga mungkin diam di tempat.
Memandang bayang punggungmu beranjak menjauh.
Demi ambisi yang hanya itu terlihat.
Atau mungkin cuma sekedar kilahan.
Topeng perubahan.
Atau demi rasa lain yang datang menari- nari dalam hatimu.
Menghapusku.
20 Oktober 2011
Selasa, 28 Februari 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar