"Delapan tahun ibu sudah pergi. Dan ternyata ibu tak sekalipun datang untuk menjenguk kami. Itu berarti ada banyak sekali yang ibu siapkan di sana, bukan seperti menyiapkan sarapan di pagi hari."
Aku nyengir. Dia juga menyengir. Itulah kata-kata yang diucapkan dia waktu membujuk adikku untuk beranjak pulang dari pemakaman ibu delapan tahun silam.
"Tetapi tak peduli seberapa lama lagi ibu akan menyiapkan banyak hal disana, ada satu hal yang akan kami kenang selalu dari semua ini."
Adikku diam takzim. Mengangkat kepalanya.
"Daun yang jatuh tak pernah membenci angin." Suara adikku tercekat.
Aku menghela napas. Kalimat itu. Melirik ke arah adikku. Wajah Dede berubah dari muka anak kuliahan serba tanggung menjadi begitu teduh. Menjadi begitu menyenangkan. Seketika hatiku ikut tersentuh.
"Dede dulu tak mengerti apa maksudnya. Kalimat itu bahkan terdengar menyebalkan. Dede bahkan mengibaskan tangan orang yang mengatakannya. Ibu... Dede hanya berpikir ibu pergi karena tak sayang lagi pada Dede. Yang bandel, selalu malas disuruh, hanya main melulu. Dede tahu ibu dulu selalu sayang Kak Tania. Jadi tak mungkin ibu pergi karena Kak Tania."
Aku menelan ludah. Dia dan Kak Ratna juga berdiam. Tangan mereka saling menggenggam.
"Dede ternyata keliru... Ibu pergi bukan karena tak sayang lagi pada Dede. Ibu pergi untuk mengajarkan sesuatu..."
Suara Dede mulai serak.
"Bahwa hidup harus menerima... penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti... pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami... pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.
"Kami kecil sekali saat ibu pergi. Gemetar menatap gelapnya masa depan. Takut bercermin pada masa lalu yang getir.
"Ibu benar... Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawanya pergi entah kemana. Dan kami akan mengerti, kami akan memahami, ... dan kami akan menerima."
Dede diam. Lama.
Lantas menoleh ke dia. Memberikan tempat baginya untuk menyampaikan sesuatu. Dia menggeleng. Adikku menatap aku. Aku juga menggeleng (kata-kata Dede sudah lebih dari cukup). Menatap Kak Ratna. Kak Ratna tersenyum menggeleng.
Kami bersama-sama meletakkan setangkai mawar merah di pusara ibu. Angin berembus lembut memainkan anak rambutku. Daun pohon kamboja berguguran. Satu helai jatuh di pundakku. Matahari menanjak tinggi. Langit cerah tak berawan. Biru! Warna kesukaanku.
Kami beranjak pulang.
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Minggu, 21 April 2013
Sabtu, 20 April 2013
(Penggalan) Sepotong Hati Yang Baru - Tereliye
…
Tetapi malam ini, ketika melihat wajah sendumu, mata sembapmu, semua cerita tidak masuk akal itu, aku baru menyadari, cinta bukan soal memaafkan. Cinta bukan sekedar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna.
Jika kau memahami cinta adalah perasaan irrasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dengan mudah membenarkan apa pun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih, tidak kurang.
Kenangan indah bersamamu akan kembali memenuhi hari-hariku entah hingga kapan. Itu benar. Membuatku sesak. Tapi aku tidak akan membiarkan hidupku kembali dipenuhi harapan hidup bersamamu. Sudah cukup. Biarlah sakit hati ini menemani hari-hariku.
Biarlah aku menelannya bulat-bulat sambil sempurna menumbuhkan hati yang baru, memperbaiki banyak hal, memperbaiki diri sendiri. Apa pepatah bilang? Ah, iya, patah hati tapi tetap sombong, patah hati tapi tetap keren.
Jika kau memahami cinta adalah perasaan irrasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dengan mudah membenarkan apa pun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih, tidak kurang.
Kenangan indah bersamamu akan kembali memenuhi hari-hariku entah hingga kapan. Itu benar. Membuatku sesak. Tapi aku tidak akan membiarkan hidupku kembali dipenuhi harapan hidup bersamamu. Sudah cukup. Biarlah sakit hati ini menemani hari-hariku.
Biarlah aku menelannya bulat-bulat sambil sempurna menumbuhkan hati yang baru, memperbaiki banyak hal, memperbaiki diri sendiri. Apa pepatah bilang? Ah, iya, patah hati tapi tetap sombong, patah hati tapi tetap keren.
Kamis, 19 Juli 2012
Aku Kembali
Ingin rasanya melihatmu mampu bertahan bersama diriku
Walaupun akhirnya kau telah pupuskan cintaku dengan bersamanya
Tak pernah ku bayangkan kau sanggup tinggalkan diriku
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Ini aku, aku berdiri, untuk hadapi segala pahit di hati
Ku coba untuk menangkan hati dan akhiri pedih, lepaskan beban ini
Meskipun kini aku sendiri namun aku kembali
Lelah rasanya hati, lelah untuk disakiti, namun telah ku jalani
Ingin ku berlalu mengejar cintaku dan mencoba untuk bertahan bersama mimpiku
Tak pernah terbayangkan ku harus lupakan semua cerita ini
Ini aku, aku berdiri, untuk hadapi segala pahit di hati
Ku coba untuk menangkan hati dan akhiri pedih, lepaskan beban ini
Meskipun kini aku sendiri namun aku kembali
Mungkin sudah saatnya tuk lupakan semua rasa kecewa
Ini aku, aku berdiri, untuk hadapi segala pahit di hati
Ku coba untuk menangkan hati dan akhiri pedih, lepaskan beban ini
Meskipun kini aku sendiri, meskipun kini aku sendiri namun aku kembali
By : Sammy Simorangkir
Source : http://liriklaguindonesia.net
Walaupun akhirnya kau telah pupuskan cintaku dengan bersamanya
Tak pernah ku bayangkan kau sanggup tinggalkan diriku
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Ini aku, aku berdiri, untuk hadapi segala pahit di hati
Ku coba untuk menangkan hati dan akhiri pedih, lepaskan beban ini
Meskipun kini aku sendiri namun aku kembali
Lelah rasanya hati, lelah untuk disakiti, namun telah ku jalani
Ingin ku berlalu mengejar cintaku dan mencoba untuk bertahan bersama mimpiku
Tak pernah terbayangkan ku harus lupakan semua cerita ini
Ini aku, aku berdiri, untuk hadapi segala pahit di hati
Ku coba untuk menangkan hati dan akhiri pedih, lepaskan beban ini
Meskipun kini aku sendiri namun aku kembali
Mungkin sudah saatnya tuk lupakan semua rasa kecewa
Ini aku, aku berdiri, untuk hadapi segala pahit di hati
Ku coba untuk menangkan hati dan akhiri pedih, lepaskan beban ini
Meskipun kini aku sendiri, meskipun kini aku sendiri namun aku kembali
By : Sammy Simorangkir
Source : http://liriklaguindonesia.net
Selasa, 15 Mei 2012
Pedas dan Kebas
Aku mulai mencintai rasa pedas dan kebas. Yang mencipta sensasi tak tertahankan yang kadang memaksa mataku berpeluh. Pedas dan kebas memaksamu keluar dari hati dan kepalaku. Menjadikanmu tiada, walau hanya sekejap, dalam hitungan millisekon. Lebih baik pedas dan kebas yang menguasai, daripada perih karena mu yang tiap detik menghantui. Yang tetap muncul ke permukaan walau tlah ku beri pemberat agar tenggelam tak berwujud lagi.
31 Januari 2012
31 Januari 2012
Minggu, 20 Juni 2010
Dunia Kita
Dimana ada dunia yang aku merasa bagian darinya?
Mataharinya.
Anginnya.
Lautnya.
Pantainya.
Pelanginya.
Hujannya.
Suara desir pasirnya.
Bayang senjanya.
Terik siangnya.
Sepi dan dingin malamnya.
Semuanya.
Dimana dunia yang semua orang merasa sama?
Sama bahagianya ketika nikmat Tuhan merangkul jiwa- jiwa yang dahaga.
Sama sedihnya ketika ada air mata di antara kita.
Sama riangnya ketika senandung sesembahan pada Rabb ku menggema membahana.
Sama takutnya ketika genggaman jalinan persahabatan tak lagi kokoh terjaga.
Dimana dunia yang harusnya aku, kamu, kita adalah sama duka gembiranya?
Dimana dunia ku?
Masih di ujung kabut sanakah?
Mataharinya.
Anginnya.
Lautnya.
Pantainya.
Pelanginya.
Hujannya.
Suara desir pasirnya.
Bayang senjanya.
Terik siangnya.
Sepi dan dingin malamnya.
Semuanya.
Dimana letaknya dunia yang aku merasa memilikinya?
Dunia yang tak sesepi hariku.
Dimana uluran tangan hangat ada setiap hampir jatuhku.
Senyum- senyum palsu menjauh.
Mengganti letak riang denting puja puji semu.
Dimana dunia yang semua orang merasa sama?
Sama bahagianya ketika nikmat Tuhan merangkul jiwa- jiwa yang dahaga.
Sama sedihnya ketika ada air mata di antara kita.
Sama riangnya ketika senandung sesembahan pada Rabb ku menggema membahana.
Sama takutnya ketika genggaman jalinan persahabatan tak lagi kokoh terjaga.
Dimana dunia yang disitulah cintaku berada?
Dimana dunia yang setengah diriku mematung,
menunggu waktu menjadi sempurna?
Dimana dunia yang harusnya aku, kamu, kita adalah sama duka gembiranya?
Dimana dunia ku?
Masih di ujung kabut sanakah?
Aku lelah.
Aku ingin duniaku.
Aku ingin bahagia.
Langganan:
Postingan (Atom)