Aku rindu.
Meski tak terlalu, tak beriring kata sangat.
Wangimu menguar di sekeliling udara yang ku hirup.
Sela- sela jemariku yang kosong rindu untuk saling bertaut dengan jemari tanganmu.
Jiwaku merindu saat- saat manis ketika pertama kau ucapkan kata sayang itu.
Hatiku merindu menghangat.
Jantungku pun telah lama tak berdebur layaknya ombak berbentur karang.
Kau jauh, amat jauh.
Tak terengkuh jangkauan raga ataupun jiwa.
Sayang, aku rindu.
Tapi bukan rindu seperti dulu.
Meski sindromnya sangat mirip, ku tau pasti, ini bagian dari proses menetralkan rasaku padamu.
Rasa yang bertepuk sebelah tangan itu.
Jadi tolong bertahan saja sebentar disana.
Di tempat yang jauh di mata dan di hati itu.
Supaya lebih giat lagi asaku menghapus mimpi masa depan, yang dulu, ku rancang indah dengan kau dan aku sebagai tokoh utamanya.
Tolong untuk tetap melanjutkan acara menghilang dan mengacuhkan itu.
Agenda tidak mengakui kesalahan dan menyesal akan itu.
Lebih mudah bagiku jika dalam keadaan luka untuk lupa.
Semoga kebahagiaan untuk tiap- tiap aku dan kamu, tidak lama lagi menjelang.
Aku ingin bahagia dicinta, walau bukan kamu.
Sidrap, 7 Januari 2012
Selasa, 28 Februari 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar